Peace
Assalamu'alaikum, Teman-teman!
Hari ini saya akan membahas tentang suatu topik yang sangat sensitif, which is the New Zealand mosque shooting. Tetapi berhubung blog saya sangat sepi, and literally no one reads it so let's just continue.
Belakangan ini, dunia digempar oleh berita duka dari Selandia Baru, tepatnya di masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Center pada Jum'at, 15 Maret 2019. Penembakan ini merupakan aksi teror supremasis kulit putih, yang identik dengan Islamophobia alias anti-Muslim. Kejadian ini juga digolongkan salah satu musibah paling mematikan di Selandia Baru. Selain jama'ah shalat Jum'at, wanita dan anak-anak pun ada yang ikut terluka bahkan terbunuh. Sang teroris tersebut menembaki siapa pun di jalannya dalam jarak dekat. Jumlah korban mencapai 50 orang, dan lebih dari 20 orang terluka parah.
Kesel banget, keseeeel banget saya melihat komentar-komentar pada postingan tentang hal ini di media sosial, apalagi melihat pernyataan resmi senator Australia kemarin yang bernama Frase Anning. Beliau malah menyalahkan Muslim atas kejadian menyedihkan kemarin. Konyol sekali, bukan?
Frase Anning ternyata seorang pendukung kuat white supremacy, yaitu ideologi bahwa ras kulit putih lebih superior dibanding ras lainnya. Postingan tentang kebenciannya terhadap Muslim mendominasi halaman akun twitter senator tersebut.
Islamofobia sudah dikenal seluruh dunia, terlebih di bagian barat. Hal ini mulai populer sejak serangan 9/11 atau serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, dimana pelaku aksi terorisme itu adalah sebuah kelompok militan 'Islam'. Akibat peristiwa ini, Islamofobia pun makin hari makin menjadi, hingga hari ini.
Kadang, saya bahkan lelah menyaksikan kebencian ini.
Entahlah dengan ISIS, dan segala kelompok-kelompok lainnya. Bisakah kita hidup damai di bumi ini? Bahkan sehari?
Perang di Timur Tengah sana, akankah mereka bahkan berpikir untuk berhenti? Apakah dengan membunuh orang yang dibenci akan menjadikan semuanya lebih baik? Such short-minded rulers.
Untuk aksi-aksi terorisme yang pelakunya orang Islam, masih ada kemungkinan bahwa pelaku itu tidak 100% bersalah. Ya, kemungkinan paling besar yaitu ancaman. Contoh: "Jika tidak kau letakkan bom ini di tempat XXX pada pukul XXX hari XXX, maka keluarga engkau akan kami bunuh." Siapa yang tega keluarganya dibunuh atau disiksa? Sebelumnya ada intel yang menyelidiki kebiasaan orang Islam ini, dari jam berapa berangkat ke kantor, kapan anaknya berangkat sekolah, dan kapan saja mereka pulang. Hal ini membuat si korban semakin takut akan ancaman tadi. Dan akhirnya.... ya, begitulah.
Dunia memang kejam. Tetapi kebenaran selalu menang. Suatu nanti semua akan terungkap. Jika tidak di dunia, pasti akan ditunjukkan Allah di akhirat. Dan balasannya pun akan berkali lipat balasan di dunia. Bahkan dosa sebesar biji dzarrah pun akan Allah balas dengan yang setimpal.
Saya baru hidup di dunia ini selama empat belas tahun, dan saya melihat banyak kebencian di antara manusia. Sepertinya kata 'damai' memang cuma omong kosong.
Dibawah adalah link petisi senator Australia tersebut.
Saya tidak terlalu berwawasan dalam dunia politik tapi saya yakin itu adalah langkah yang baik untuk dilakukan. Orang rasis tidak pantas menduduki posisi kuat seperti itu.
Wallahua'lam bisshawwab.
-athifa-

Komentar
Posting Komentar