Field Trip!
Assalamu'alaikum, gais.
Mau tahu nggak?
Dynamic akhirnya jadi field trip!
Pada tanggal 18-20 Januari, sekolah mengadakan Field Trip ke Sumatra Barat (fyi, field trip konon dikatakan sebagai kegiatan yang paling ditunggu-tunggu setiap siswa-siswi Mutiara).
Let's start this.
Jum'at, 18 Januari 2019.
Hari Jum'at sekitar pukul setengah delapan lewat, tujuh bus berangkat dari Duri menuju Padangpanjang. Alhamdulillah perjalanan lancar-lancar saja, kecuali pas di jalan Petapahan sana, jalannya berlubang-lubang (rusak parah) sampai penumpang yang berada di belakang bus terlempar-lempar (nggak sih, mereka aja yang lebay).
Dalam kurun waktu 7 jam, kami telah sampai di Payakumbuh. Oleh karena itu, kami menyempatkan untuk pergi ke Bukit Kelinci. Seperti namanya, tempat wisata ini banyak kelincinya. Yang saya saya sukai dari tempat ini adalah karena disertakannya peringatan 'DILARANG BERMAKSIAT' dan 'DILARANG PACARAN', karena generasi sekarang suka menyalahgunakan tempat wisata untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu. Salut.
Perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam lebih (sudah termasuk berhenti makan, shalat, dll) hingga akhirnya sampai di IPDN Baso pada pukul 09.30 malam, dimana terletak sebuah bangunan yang berupa asrama yang menjadi tempat tinggal sementara Dynamic disana. Dan ironisnya, nama asramanya yaitu Asrama Mutiara. Subhanallah sekali ya, teman-teman.
Saya bersama Halilla dan Siti menempati kamar 239 di lantai kedua dan alhamdulillah, tidak ada kejadian mistis di kamar kami, namun terjadi satu hal yang membuat saya trauma 200%. Tragedi jangkrik. Ini bukan jangkrik sembarangan. Sama sekali BUKAN jangkrik sembarangan. Kenapa? Karena itu jangkrik SANGAT, SANGAT, SANGAT BESAR. Huft. Saya terlalu merinding untuk menceritakannya kembali. Biarlah mereka saja yang tahu.
Sabtu, 19 Januari 2019.
Pukul enam sebelum memulai kegiatan, Dynamic sarapan nasi goreng (nggak tahu yang lain sih, pokoknya bus 4 makan nasi goreng). Kemudian, kami berangkat dengan bus menuju daerah Pandai Sikek, kira-kira 15-20 menit dari asrama. Bersama tokoh masyarakat, Dynamic berkumpul di aula-nya Pandai Sikek dan diberi arahan dan nasehat. Setelah itu yang ikhwan pergi ke tempat menenun, sementara yang akhwat ke sawah (tidak lupa membawa LKS).
Nah, di sawah ini, dengan bebas kami berlari-lari di lumpur karena kebetulan nggak ada yang ikhwan (no jaim jaim club). Pengalaman berlibur seperti ini mungkin hanya dirasakan sekali seumur hidup. Tapi sebelumnya, mari kita ingat LKS Biologi yang meminta kami semua untuk mengambil sampel dan menganalisa tanah di sawah, 5 meter dari sawah, dan 10 meter dari sawah. Setelah selesai, kami pun langsung capcus nyebur ke sawah.
Oleh bapak pemilik sawah (lupa nama), kami dijelaskan proses penanaman padi ini. Kami pun diberikan kesempatan bertanya dan mencoba menanamnya sendiri (yeay!). Bahkan beberapa orang juga mencoba menggunakan mesin pembajak sawah yang telah menggantikan kerbau. Beberapa yang usil (contohnya anak ini) melempar kol dan mencipratkan lumpur kepada teman-temannya sehingga pakaian menjadi tambah kotor. Untung sekali seorang guru dengan tegas melarangnya untuk melempar kol karena kol itu juga makanan yang tetap harus dihargai, bukan?
Mau tahu nggak?
Dynamic akhirnya jadi field trip!
Pada tanggal 18-20 Januari, sekolah mengadakan Field Trip ke Sumatra Barat (fyi, field trip konon dikatakan sebagai kegiatan yang paling ditunggu-tunggu setiap siswa-siswi Mutiara).
Let's start this.
Jum'at, 18 Januari 2019.
![]() |
| Bus 4, let's go! |
Dalam kurun waktu 7 jam, kami telah sampai di Payakumbuh. Oleh karena itu, kami menyempatkan untuk pergi ke Bukit Kelinci. Seperti namanya, tempat wisata ini banyak kelincinya. Yang saya saya sukai dari tempat ini adalah karena disertakannya peringatan 'DILARANG BERMAKSIAT' dan 'DILARANG PACARAN', karena generasi sekarang suka menyalahgunakan tempat wisata untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu. Salut.
Perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam lebih (sudah termasuk berhenti makan, shalat, dll) hingga akhirnya sampai di IPDN Baso pada pukul 09.30 malam, dimana terletak sebuah bangunan yang berupa asrama yang menjadi tempat tinggal sementara Dynamic disana. Dan ironisnya, nama asramanya yaitu Asrama Mutiara. Subhanallah sekali ya, teman-teman.
Saya bersama Halilla dan Siti menempati kamar 239 di lantai kedua dan alhamdulillah, tidak ada kejadian mistis di kamar kami, namun terjadi satu hal yang membuat saya trauma 200%. Tragedi jangkrik. Ini bukan jangkrik sembarangan. Sama sekali BUKAN jangkrik sembarangan. Kenapa? Karena itu jangkrik SANGAT, SANGAT, SANGAT BESAR. Huft. Saya terlalu merinding untuk menceritakannya kembali. Biarlah mereka saja yang tahu.
Sabtu, 19 Januari 2019.
Pukul enam sebelum memulai kegiatan, Dynamic sarapan nasi goreng (nggak tahu yang lain sih, pokoknya bus 4 makan nasi goreng). Kemudian, kami berangkat dengan bus menuju daerah Pandai Sikek, kira-kira 15-20 menit dari asrama. Bersama tokoh masyarakat, Dynamic berkumpul di aula-nya Pandai Sikek dan diberi arahan dan nasehat. Setelah itu yang ikhwan pergi ke tempat menenun, sementara yang akhwat ke sawah (tidak lupa membawa LKS).
![]() |
| *sawahnya dibelakang kami |
Nah, di sawah ini, dengan bebas kami berlari-lari di lumpur karena kebetulan nggak ada yang ikhwan (no jaim jaim club). Pengalaman berlibur seperti ini mungkin hanya dirasakan sekali seumur hidup. Tapi sebelumnya, mari kita ingat LKS Biologi yang meminta kami semua untuk mengambil sampel dan menganalisa tanah di sawah, 5 meter dari sawah, dan 10 meter dari sawah. Setelah selesai, kami pun langsung capcus nyebur ke sawah.
Oleh bapak pemilik sawah (lupa nama), kami dijelaskan proses penanaman padi ini. Kami pun diberikan kesempatan bertanya dan mencoba menanamnya sendiri (yeay!). Bahkan beberapa orang juga mencoba menggunakan mesin pembajak sawah yang telah menggantikan kerbau. Beberapa yang usil (contohnya anak ini) melempar kol dan mencipratkan lumpur kepada teman-temannya sehingga pakaian menjadi tambah kotor. Untung sekali seorang guru dengan tegas melarangnya untuk melempar kol karena kol itu juga makanan yang tetap harus dihargai, bukan?
![]() |
| bersama musuh saya Kanjeng Rere Jonggrang. |
![]() |
| we go up! |
Dynamic akhwat pun berangkat ke tempat pembuatan tenun yang bernama 'Osoik Songket Balapak'. Secara langsung kami melihat proses pembuatan kain songket yang ternyata tidak mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra dan waktu yang tidak sedikit untuk membuat sehelai kain songket. Oleh karena itu, harga songket ini juga tidak main-main, paling kecil itu nominalnya sudah jutaan. Songket juga tersedia dalam banyak motif dan warna. Oleh karena itu, tentu saja kain songket ini menarik perhatian warga luar negeri.
Di aula Pandai Sikek tadi, kami makan siang bersama-sama dan shalat berjama'ah di masjid (lupa nama). Lalu, untuk menghabiskan waktu, kami berangkat menuju Kolong Langit Agrowisata dimana jeruk, stroberi, dan beri-beri lainnya dibudidayakan. Kami juga dijelaskan oleh pemilik kebun tersebut tentang tumbuhan stroberi. Dynamic mengambil banyak sekali foto di tempat tersebut.
Lalu, kami kembali ke asrama untuk bersih-bersih dan makan malam di kafetaria-nya asrama.
Minggu, 20 Januari 2019.
Apa?! Udah pulang aja?!
Begitulah kira-kira reaksi orang yang menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Kami sarapan di kafetaria asrama lagi, dimana tempatnya nggak cukup untuk 180 orang lebih sehingga beberapa nongkrong cantik 'lesehan-an' diluar. Tersedia banyak menu dan air minum bermerek 'Asri' yang 100% lokal dan aman untuk kesehatan.
Sebelum pulang, kami mampir ke Bukittinggi dan diberi kebebasan waktu selama dua jam lebih untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Namun kami dilarang keras membeli oleh-oleh karena disana katanya mahal. Dan ternyata memang benar mahal.
Jam Gadang yang merupakan salah satu ikon (bukan iKON sarangeul haetda) yang mewakili Sumatra Barat, dan sayang sekali saat kami tiba disana tempat itu masih direnovasi.
Di aula Pandai Sikek tadi, kami makan siang bersama-sama dan shalat berjama'ah di masjid (lupa nama). Lalu, untuk menghabiskan waktu, kami berangkat menuju Kolong Langit Agrowisata dimana jeruk, stroberi, dan beri-beri lainnya dibudidayakan. Kami juga dijelaskan oleh pemilik kebun tersebut tentang tumbuhan stroberi. Dynamic mengambil banyak sekali foto di tempat tersebut.
![]() |
| Mahabbah saranghae kamu<3 |
![]() |
| Dynamic akhwat, Mahabbah, Suci, Kamilah! (serius silau) |
Lalu, kami kembali ke asrama untuk bersih-bersih dan makan malam di kafetaria-nya asrama.
Minggu, 20 Januari 2019.
Apa?! Udah pulang aja?!
Begitulah kira-kira reaksi orang yang menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Kami sarapan di kafetaria asrama lagi, dimana tempatnya nggak cukup untuk 180 orang lebih sehingga beberapa nongkrong cantik 'lesehan-an' diluar. Tersedia banyak menu dan air minum bermerek 'Asri' yang 100% lokal dan aman untuk kesehatan.
![]() |
| beginilah kondisi tempat makan asrama. |
Sebelum pulang, kami mampir ke Bukittinggi dan diberi kebebasan waktu selama dua jam lebih untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Namun kami dilarang keras membeli oleh-oleh karena disana katanya mahal. Dan ternyata memang benar mahal.
Jam Gadang yang merupakan salah satu ikon (bukan iKON sarangeul haetda) yang mewakili Sumatra Barat, dan sayang sekali saat kami tiba disana tempat itu masih direnovasi.
Lalu pada pukul sebelas, kami capcus memulai perjalanan dan berhenti makan siang di Bajamba. Mushola-nya agak kecil, sehingga sholat berjama'ah harus dilakukan beberapa trip. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di tempat membeli oleh-oleh berupa keripik-keripik khas Sumatra Barat bernama Djoeragan, dan dijamin tidak terlalu mahal.
Setelah berhenti agak lama di Djoeragan untuk menunggu seseorang kembali, kami pun baru benar-benar meninggalkan Sumatra Barat. Saat maghrib pukul setengah tujuh lewat, kami berhenti di rumah makan andalan yaitu Kelok Indah untuk shalat dan tentunya untuk makan. Sekitar satu jam berhenti, rombongan pun melanjutkan perjalanan.
Kami melewati Pekanbaru untuk menghindari jalan di Petapahan kemarin yang rusak parah (pemerintahan Riau, notis dong ya). Itu uang pajak yang dibayar orangtua kami tolong dipakai untuk perbaikan jalan ya, Pak. Jangan untuk korupsi.
Kami melewati Pekanbaru untuk menghindari jalan di Petapahan kemarin yang rusak parah (pemerintahan Riau, notis dong ya). Itu uang pajak yang dibayar orangtua kami tolong dipakai untuk perbaikan jalan ya, Pak. Jangan untuk korupsi.
Senin, 21 Januari 2019.
Alhamdulillah dengan selamat kami sampai di sekolah pada pukul setengah tiga pagi. Berhubung dengan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, Dynamic diliburkan untuk hari Senin sementara guru pendamping diberi time limit jam sepuluh pagi untuk masuk sekolah.
Field trip kali ini tidak akan terlupakan, dan insyaa Allah mengeratkan ukhuwah Dynamic'19. Banyak kejadian yang telah dilalui bersama pada tiga hari tersebut, maupun yang lucu, sedih, deg-degan, takut, senang, dan lain-lain.
Selesai, deh. Jadi terharu:')
Baiklah, sekian terima kasih. Pokoknya ini pengalaman sangat berkesan dan berbekas dalam hati. Terima kasih semuanya!
-athifa-
P.S. : Miss An, kalau hasil UN kami memuaskan, boleh field trip lagi nggak?







kalian baru boleh ft lagi kalo nilai UNBK MTK 100 -ms.An.
BalasHapus*otw mabuk dah dynamic semua*
auto buka paket sun toska
Hapussumpaah baru bacaa:""" jadi rinduuu ft :((
BalasHapus